Aku Menyaksikan Senyummu Sejak 2005, Aku Tak Akan Membiarkan Kanker Mengambilnya Begitu Saja

Ada satu hal tentang Vero yang selalu tertinggal di ingatan saya, caranya memegang bola basket mantap dan tenang, seolah bola itu memahami benar ritme tangannya. Bukan genggaman seorang atlet profesional, tapi genggaman seseorang yang menemukan rumah dalam permainan basket.

Kami sudah bermain sejak 2005, ketika Lapangan Banteng masih menjadi tempat berkumpulnya komunitas basket kami. Tahun-tahun ketika sepatu kami lebih sering tergores aspal daripada menyentuh lantai kayu, ketika kami bertanding tanpa wasit, tanpa skor resmi, hanya mengikuti irama permainan yang kami bangun bersama.

Dulu, setiap Sabtu pagi, Vero datang dengan rambut yang selalu diikat tinggi, kaus oversized, dan tawa yang mengisi setengah lapangan sebelum permainan dimulai. Dia pemain yang larinya cepat, tembakannya rapi, dan matanya bisa membaca celah permainan sebelum siapa pun menyadarinya. Dia bukan tipe yang berteriak ketika mencetak angka tapi cukup senyum tipis dan high five singkat. Tetapi energi itu selalu cukup untuk membuat kami bermain lebih baik.

Seiring waktu, kami semua bertambah sibuk. Rutinitas kantor, rapat, perjalanan dinas. Tapi lapangan tetap menjadi tempat kami pulang. Setelah dua dekade bermain bersama, ritme kami tidak lagi dibangun oleh stamina, tetapi oleh kebiasaan dan oleh ikatan yang entah bagaimana tetap bertahan meski berbeda tempat bermain ataupun dengan komunitas yang berbeda.

Itu sebabnya ketika suatu waktu Vero tiba dengan langkah lebih pelan, saya langsung merasa ada yang berubah. Tidak besar, tidak dramatis hanya selapis kehilangan cahaya di matanya. Ia bilang ia lelah dan minta tempo permainan diturunkan. Kami tidak curiga, karena siapa yang tidak lelah setelah bekerja? Lapangan hanya jeda dari hidup, bukan panggung untuk membuktikan apa pun.

Beberapa minggu setelah itu, Vero mulai jarang muncul. Pesannya lambat, komentarnya singkat. Tidak lagi menganalisis permainan seperti biasanya. Tidak lagi memarahi gaya bermain saya yang ceroboh.

Kemudian datang satu pesan yang mengubah banyak hal:
“Bro, kalau besok lu free, gue mau cerita….”

Saya datang seperti biasa, hanya tidak tahu bahwa hari itu dunia Vero sedang bergeser. Di meja kafe di sekitaran Tebet Jakarta Selatan, ia masih Vero yang sama, tenang, sedikit sarkastik tetapi ada keteduhan yang berbeda, seperti seseorang yang sedang belajar menguasai rasa takutnya sendiri.

Lalu dengan suara pelan namun mantap, ia berkata,
“Gue didiagnosis kanker payudara. Masih awal. Tapi gue harus mulai pengobatan.”

Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada tangisan. Hanya jeda panjang yang membuat suara kendaraan di jalan terdengar jelas, seolah dunia menahan napas. Saya bukan orang yang jago menenangkan siapa pun, jadi saya hanya mendengarkan. Menyimak tanpa memandangnya seperti korban, karena saya tahu itu bukan yang ia butuhkan.

Vero tidak butuh belas kasihan. Ia butuh tempat untuk kembali menjadi dirinya sendiri.

Sejak saat itu, ritme pertemanan kami berubah. Lapangan Banteng bukan lagi sekadar lapangan. Ia menjadi ruang aman dari hari-hari panjang penuh hasil lab, ruangan berbau antiseptik, dan kursi-kursi ruang tunggu.

Kadang Vero datang hanya untuk duduk menonton. Rambutnya mulai menipis, tubuhnya cepat lelah. Tapi komentarnya tetap sama tajamnya.

“Bro, lu terlalu maksa ke kiri. Gue aja yang lagi sakit bisa baca gerakan lu.”

Saya tertawa, karena bahkan dalam kesulitan, ia tetap menjadi Vero yang saya kenal sejak 2005.

Namun ada hari-hari ketika ia benar-benar tidak mampu bangun dari tempat tidur. Hari ketika satu emoji dalam pesan saja sudah merupakan tenaga yang besar. Hari ketika lapangan terasa kosong meski banyak orang bermain.

Dari Vero saya belajar bahwa menjadi sahabat bukan tentang memberi jawaban, tapi tentang menjadi ruang yang tidak menuntut apa-apa. Tentang mengirim foto lapangan kosong sebelum bermain, hanya untuk memastikan ia tahu bahwa tempat ini tetap miliknya. Tentang mengirim highlight pertandingan NBA agar percakapan tetap berjalan normal. Tentang diam bersama tanpa merasa canggung.

Pengobatan mengubah tubuh Vero perlahan-lahan. Rambutnya mulai rontok, alisnya menipis, pipinya mengecil. Tapi cara dia menertawakan permainan saya, cara dia mengatur tempo tim dari pinggir lapangan, semua itu tetap sama.

Suatu pagi setelah latihan, ia berkata pelan,
“Ada hari-hari gue takut orang lihat gue beda.”

Saya menjawab hal paling jujur yang saya mampu,
“Yang berubah cuma tampilan, Ver. Cara lu ngomel kalau gue salah passing… itu sama. Dan itu yang lebih nyeremin dari kanker.”

Dia tertawa. Dan pada tawa itu saya tahu: ia sedang membangun dirinya lagi, pelan-pelan, tapi pasti.

Waktu berlalu, dan kabar baik itu akhirnya datang. Pengobatan berjalan baik. Tubuhnya merespons. Dokter memberi izin untuk mulai olahraga ringan. Tidak kembali seperti dulu, tapi sebuah langkah awal.

Hari ketika Vero kembali ke lapangan adalah salah satu hari paling hangat dalam dua puluh tahun kami bermain bersama. Langkahnya pelan, tapi setiap gerakan membawa bobot kemenangan kecil. Saya memberikan bola kepadanya perlahan, seperti menyerahkan sesuatu yang pernah menjadi bagian besar hidup kami.

Vero menggiring pelan, berhenti beberapa meter dari ring, dan menembak. Bola melesat mulus masuk. Tidak ada sorakan, hanya tepuk tangan pelan dari saya.

“Masih inget caranya,” katanya sambil tersenyum.

Saya tahu perjalanannya belum selesai. Menjadi penyintas bukan garis akhir, itu awal baru. Tapi Vero menjalani semua itu seperti ia menjalani permainan basket: menyesuaikan ritme, membaca situasi, dan terus bergerak meski perlahan.

Kini kondisi Vero jauh lebih baik. Rambutnya mulai tumbuh, wajahnya lebih segar, dan energinya mulai menyerupai dirinya yang dulu. Namun bagi saya, Vero selama masa pengobatan pun tetap Vero yang sama, bukan versi lemah, tapi versi yang lebih utuh.

Kadang setelah latihan, ia berkata ingin kembali bermain seperti dulu. Saya selalu menjawab,
“Pelan-pelan aja, Ver. Yang penting lu balik ke lapangan. Sisanya tinggal tunggu ritme lu balik sendiri.”

Lapangan Banteng menjadi saksi perjalanan kami selama dua puluh tahun: dari tahun-tahun awal komunitas milis, dari masa-masa tanpa beban, hingga tahun-tahun ketika hidup mulai memunculkan babak-babak sulit.

Dan mungkin dari semua hal yang saya pelajari, satu hal yang paling bertahan adalah ini:
Persahabatan tidak selalu membuat dunia lebih mudah. Tapi persahabatan membuat seseorang tidak harus menghadapinya sendirian. Dan kadang, itu sudah lebih dari cukup.

Published by akhmad zulfikri

basketball freak | abang jakarta zaman old | travel blogger | culinary hunter | icon PR 2017 | airliners | terbangkebulan.com