5 Faktor Penentu Turis Asing kembali Wisata ke Indonesia

Seperti kita ketahui dan sudah diulas pada tulisan-tulisan sebelumnya bahwa industri pariwisata lah yang paling terdampak karena pandemi covid-19 ini karena mengalami hardest hit dan falling like a stars kalau kata James Arthur 😀

Indonesia sebagai salah satu negara yang mengandalkan pariwisata, khususnya Bali, sebagai magnet dunia pastinya mengandalkan kedatangan turis asing. Bali telah mengalami imbas penurunan pendapatan pariwisata yang sangat drastis. Maskapai penerbangan, hotel, restauran, dan sektor pariwisata lainnya adalah berbagai industri yang saat ini menghadapi ketidakpastian dan berupaya untuk bertahan.

Walaupun saat ini banyak negara termasuk Indonesia telah mencoba untuk melakukan harmonisasi protokol kesehatan dan melalui inisiatif travel corridor untuk wisatawan mancanegara, serta mendorong upaya pemasaran travel domestik untuk mengembalikan kepercayaan responden untuk kembali berwisata. Industri pariwisata masih membutuhkan waktu untuk kembali pulih.

Ditulis kembali dari sebuah survey oleh Kleopas Danang Bintoroyakti, Survey ini memiliki 30 pertanyaan dan melibatkan 102 responden dari 28 negara antara lain 13% responden tinggal di Britania Raya dan Irlandia, Singapura dan Kanada, 10% responden tinggal di Australia, 8% responden tinggal di Amerika Serikat, 6% responden tinggal di Malaysia, 5% responden masing-masing tinggal di Belanda & Hong Kong, 4% responden tinggal di Thailand dan 3% responden tinggal di Prancis.

22.5% responden mengalokasikan US$ 1,500 – US$ 2,500 tiap tahun untuk bepergian, kemudian disusul 19% responden mengalokasikan US$ 5,000 – US$ 10,000 (19%). Budget travel disini termasuk tiket penerbangan, akomodasi dan belanja.

69% responden yang mengikuti survei ini adalah laki-laki, disusul perempuan (31%), sementara itu, untuk kategori umur mayoritas adalah umur 45-60 tahun (33%), disusul kategori umur 35-45 tahun (31%) dan 25-35 tahun (19%.

31% responden mengunjungi Indonesia sebanyak 2-4 kali dalam 10 tahun, kemudian disusul responden yang mengunjungi Indonesia >6 kali (28%) dan hanya 1 kali (22%). Angka ini dapat menjelaskan bahwa profile pengunjung asing ke Indonesia yang melakukan kunjungan berulang.

Destinasi Pilihan

Bali masih menjadi pilihan utama, 30%. Kemudian yang kedua adalah Jakarta dengan 18% disusul dengan Lombok (13%), Borobudur Temple (19%) and Yogyakarta (9%), Surabaya, (6%), Raja Ampat (6%) dengan mayoritas tujuan perjalanan responden adalah berlibur (51%) disusul oleh tujuan bisnis (36%) dan (13%) porsi kecil untuk visiting friends and relatives.

Faktor Penentu

Ada 5 hal utama yang menjadi faktor penentu untuk mengunjungi Indonesia kembali antara lain responden diminta untuk memilih 5 hal yang mereka senangi terkait pengalaman perjalanan mereka ke Indonesia. Keramahtamahan Indonesia merupakan hal tertinggi yang dipilih, disusul makanan dan minuman, budaya, kekayaan alam serta keterjangkauan harga.

Dan ada 5 hal utama juga yang menjadi hambatan untuk berwisata ke Indonesia antara lain Seamless connectivity (Transportasi Publik) adalah hal tertinggi yang dipilih responden, disusul infrastruktur teknologi (IT) seperti Wi-Fi, travel platform, serta masalah kebersihan, dan lain-lain seperti kemacetan lalu lintas, infrastruktur daerah wisata serta pengalaman berbelanja.

Sementara 5 faktor utama penentu yang akan membuat mereka untuk bepergian di masa new normal adalah protokol kesehatan di destinasi pariwisata, kemudian disusul oleh akomodasi yang bersih dan sehat, test COVID-19 sebelum keberangkatan, regulasi karantina serta implementasi protokol kesehatan di pesawat.

Loyalitas Pelanggan

55% atau mayoritas responden memilih bahwa mereka fleksibel dalam menentukan metode penukaran miles untuk tiket perjalanan mereka dan keluarganya. 14% responden menyatakan mereka akan menukarkan air miles mereka, sementara itu 31% menyatakan bahwa mereka tidak menukarkan miles untuk tiket perjalanan bagi dirinya dan keluarga. 75.5% atau mayoritas responden menyatakan mereka tergabung dalam program loyalitas pelanggan maskapai, sementara 24.5% responden tidak tergabung dalam program loyalitas pelanggan.

43% responden menyatakan mereka memilih untuk bermalam di akomodasi berbintang 4-5, 29% memilih akomodasi berbintang 3-4. Sementara terdapat persentase yang hampir sama dengan mereka yang memilih tidak keberatan dengan akomodasi tanpa bintang selama aman, bersih, nyaman dan memiliki review yang bagus (29%)

Aspirasi Travelers

  • 54% responden menyatakan bahwa mereka masih tidak yakin untuk terbang ke Indonesia karena mereka harus mengetahui implementasi protokol kesehatan di Indonesia. 26% responden menyatakan mereka mau langsung mengunjungi Indonesia dan 20% menyatakan akan menunggu vaksin. Karena masih ada 54% yang masih tidak yakin, IMHO sekarang adalah waktu yang tepat bagi Indonesia untuk memulai campaign destinasi dan health protocol implementation yang sudah diterapkan.
  • 33% responden menyatakan mereka akan pergi ke lebih dari 1 destinasi apabila mereka sudah diizinkan terbang ke Indonesia. 24% responden menyatakan bahwa mereka hanya akan mengunjungi 1 destinasi. 43% menyatakan bahwa mereka masih belum tahu karena bergantung atas program paket tur dan itinerarynya. Dapat disimpulkan bahwa saat ini waktu yang tepat untuk mulai mengemas paket tur dan pemasaran internasional.
  • 50% responden menyatakan bahwa mereka memilih untuk terbang direct non-stop dari negara mereka ke Indonesia. Sementara 26% menjawab tidak keberatan untuk terbang dengan transit. 24% menyatakan fleksibel, bergantung atas konektivitas maskapai pilihan mereka.

Tim 8 Covid-19 PERHUMAS Bantu Gugus Tugas DKI Jakarta Susun Strategi Komunikasi

Turut berperan aktif dalam membantu pemerintah dan masyarakat menangani Covid-19, PERHUMAS bekerja sama terkait penanganan strategi komunikasi Covid-19 dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi DKI Jakarta.

Guna menindaklanjuti kerja sama tersebut dibentuklah Tim 8 Covid-19 PERHUMAS yang di dalamnya meliputi anggota BPP PERHUMAS. Mereka adalah Emilia Bassar (Wakil Ketua Bidang Pelatihan dan Keanggotaan), Fardila Astari (Bidang Riset dan Kompetensi), Emmy Kuswandari (Bidang Pelatihan dan Keanggotaan), Diyan Yari (Bidang Pengembangan Badan Pengurus Cabang), Dian Agustine (Bidang Komunikasi dan Hubungan Antarlembaga), Akhmad Zulfikri (Bidang Kerjasama Strategis), Reylando Eka Putra (Bidang Pengembangan PERHUMAS Muda), dan Anggia Bahana Putri (Executive Secretary BPP PERHUMAS).

Kerja sama dimulai pada pertengahan Maret 2020. Menurut Ketua Umum BPP PERHUMAS Agung Laksamana, kontribusi bisa dilakukan bisa dalam bentuk apa saja, baik pemikiran, ide, rekrutmen relawan, maupun aksi nyata penggalangan dana.

“Khusus kerja sama ini tujuannya untuk meringankan kerja tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DKI Jakarta dalam menyusun strategi komunikasi dalam pengambilan keputusan percepatan penanganan Covid-19. Tim PERHUMAS menerjemahkannya dalam detail strategi komunikasi berupa usulan konten setiap minggu,” ujar Agung.

Wakil Ketua Bidang Pelatihan dan Keanggotaan BPP PERHUMAS Emilia Bassar menambahkan, strategi komunikasi yang terstruktur serta terukur bertujuan untuk menggerakkan basis-basis komunitas hingga yang terkecil di masyarakat. Contohnya, dalam menyosialisasikan dan menyebarkan informasi terkait penanganan Covid-19, melakukan kontrol dan gerakan sosial yang terarah, dan saling mendukung untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Selain itu, upaya ini juga bertujuan agar semua kebijakan dan tindakan yang diambil oleh pemerintah dapat tersampaikan secara cepat dan tepat kepada masyarakat sehingga tidak menimbulkan persepsi yang beragam. “Pesan yang disampaikan adalah pesan yang menunjukkan rasa peduli dan empati sungguh-sungguh dari pemerintah terhadap masyarakat. Terutama, mereka yang terdampak langsung,”


Tim 8 Covid-19 PERHUMAS juga melakukan evaluasi terhadap semua kanal komunikasi Pemprov DKI, seperti website dan Instagram. Temuan awal di antaranya perlu adanya pembenahan hotline service, panduan gejala Covid-19, QnA seputar korona, kontak darurat yang harus mudah dicari, peta dan data rumah sakit rujukan yang mudah diakses oleh masyarakat, serta lokasi tempat masyarakat bisa melakukan pemeriksaan secara mandiri. Selain itu, Tim 8 juga memerhatikan unggahan data di website dan kanal lain, infografis, layanan informasi untuk wartawan, penggunaan tagar, dan informasi terkini di newsroom.

Menurut Emilia, yang menantang dari tugas ini adalah membuat konten yang sesuai dengan strategi komunikasi yang sudah ada. Sementara pengukuran terhadap keberhasilan komunikasi baru bisa dilakukan dengan catatan adanya strategi komunikasi serta target audiens yang jelas. “Kerja pro-bono ini merupakan pekerjaan besar. Agar bisa segera memberikan bantuan nyata, kami ngebut mengerjakan tahap demi tahap,” ujarnya.

Tips Bertahan di Industri Pariwisata Saat dan Setelah Pandemi

Mungkin terlalu dini untuk menulis ini saat pandemi belum juga usai, apalagi saya bukan pemilik suatu perusahaan hanya pekerja di sektor pariwisata dalam beberapa tahun terakhir, tapi saya mencoba menulis langkah-langkah ini mungkin bisa dikaji sebagai bahan pertimbangan untuk dilakukan agar organisasi bisa bertahan melewati pandemi.

Selama tiga bulan terakhir, Maret-Mei 2020 pariwisata di Indonesia berada pada titik terendah dikarenakan pariwisata adalah industri yang terdampak paling dalam saat periode pandemi berlangsung dan bisa jadi yang terakhir berangsur pulih karena pariwisata bukan kebutuhan pokok melainkan kebutuhan tersier. Banyak yang bilang pariwisata akan rebound di tahun 2021, mungkin saja benar akan tetapi segala sesuatu harus diperjuangkan dengan optimis bahwa recovery bisa terjadi lebih cepat tergantung bagaimana kita bereaksi bukan?

Kementerian/Lembaga, BUMN, Swasta, Organisasi termasuk individu membatalkan kegiatan dan wisata mereka, destinasi wisata sepi, tingkat hunian hotel-hotel sangat rendah, maskapai penerbangan beroperasi terbatas dan tidak ada lagi kegiatan MICE. Pariwisata akan bangkit kembali, tapi kapan? Organisasi harus menciptakan cara-cara baru dan kreatif untuk bertahan, baik inovasi dengan bisnis yang sudah ada ataupun menciptakan bisnis dan peluang baru yang mungkin bisa saja keluar dari kebiasaan.

Untuk memulai suatu kegiatan sebagai tanda pemulihan industri pariwisata, pelaku atau pemerintah harus inisiasi contoh dan praktek nyata bahwa kegiatan wisata bisa dilakukan dengan aman dengan protokol-protokol kesehatan dan pengalaman-pengalaman wisata yang baru.

Berikut adalah beberapa langkah-langkah yang bisa dikaji untuk dilakukan agar organisasi bisa bertahan saat dan setelah pandemi;

Tindakan strategis
• Menghentikan operasional dan mengevaluasi posisi organisasi
• Menyesuaikan operasional sesuai dengan permintaan pasar
• Riset dan analisa pasar, segmen dan bisnis baru yang dapat diaktualisasikan.
• Mengembangkan strategi branding baru atau penyegaran merk.
• Bersama mitra mengadakan kerjasama strategis untuk mendapatkan cash in advance
• Relaksasi kewajiban kredit, pinjaman, hutang ke lembaga keuangan dan mitra kerjasama.
• Membentuk Tim Krisis.
• Berperan aktif dan berkolaborasi dengan industri dan pemerintah.
• Bersama asosiasi mengusulkan stimulus-stimulus strategis yang dapat di berikan Pemerintah untuk industri seperti misalnya penghapusan pajak, pelatihan tenaga kerja, dukungan peraturan dan kebijakan-kebijakan terkait pemulihan sektor pariwisata.

Keuangan
• Menekan Biaya Operasional, meminimalkan biaya tetap.
• Negosiasi dengan mitra kerjasama untuk mengatur persyaratan yang sesuai, memotong layanan yang belum menjadi prioritas.
• Uji stres tingkat satu dan tingkat dua.
• Menyiapkan dana tambahan untuk menyiapkan pemulihan ketika waktunya tepat.
• Menyiapkan dana untuk mendukung pelatihan ulang terkait keterampilan dalam bisnis proses atau produk baru.
• Menanamkan disiplin pemantauan arus kas yang memungkinkan prediksi arus kas dan melakukan intervensi secara tepat waktu.
• Waspada dengan dana talangan yang digunakan untuk kebutuhan operasional dan bukan digunakan untuk pengembangan karena dapat berdampak negative kepada perusahaan di kemudian hari.

Pemasaran
• Bekerja sama dengan industri untuk mengembangkan serangkaian paket yang dapat diluncurkan dalam waktu singkat dan mendapat benefit dalam waktu singkat. Paket dapat termasuk harga khusus untuk tiket pesawat, akomodasi, makanan, dan minuman, kegiatan yang menimbulkan ketertarikan khusus. Bisa berupa voucher diskon menarik, paket-paket menarik yang belum pernah ada sebelumnya menyesuaikan era normal baru dsb. Misal work from hotel, Paket Olahraga, Pay Now Stay Later, Staycation dsb
• Membatasi semua kegiatan pemasaran kecuali media baru.
• Tetap lakukan komunikasi dengan partner dan konsumen untuk selalu mengingatkan kesetiaan akan jasa dan produk,
• Manfaatkan teknologi untuk komunikasi ke stakeholder secara digital dan virtual dengan konsep yang menarik dan khusus.
• Memanfaatkan media sosial secara efektif.
• Fokus ulang anggaran promosi pada pasar domestik dan terdekat yang bertujuan untuk pasar lokal dan mempromosikan jasa dan produk.
• Mempromosikan kebersihan, kesehatan, keselamatan bagi wisatawan di destinasi tujuan serta di produk dan jasa yang di berikan.
• Sampaikan kepada wisatawan tentang tindakan yang akan diterapkan oleh destinasi (seperti pemeriksaan virus, tindakan keamanan lainnya)
• Fokus awalnya pada pasar domestik dan kawasan terdekat. Karena setiap negara pasti akan memulihkan pariwisatanya dengan menghimbau warganya untuk berwisata dalam negeri dahulu.

Sumber Daya Manusia
• Memastikan kesehatan pegawai menyiapkan kebutuhan serta prosedur kesehatan termasuk motivasi pegawai.
• Membuat aturan untuk pegawai yang kerja bekerja dari rumah, sistem pengukuran kinerja, pengembangan dan perlengkapannya
• Membuat analisa beban kerja dan kebutuhan organisasi saat pandemi dengan memperhitungkan efisiensi biaya tenaga kerja dan multi tugas dari setiap individu
• Restrukturisasi Organisasi menyesuaikan dengan era normal baru, era normal berikutnya dan era paska normal.
• Menyiapkan infrastruktur teknologi telekonferensi dan konferensi video.
• Memperhatikan sumber daya yang bekerja di garis depan dengan insentif atau manfaat khusus.

Operasi & Pengembangan
• Menyiapkan Prosedur Pelayanan, Prosedur Kesehatan Wisatawan, Prosedur Kesehatan Mitra Usaha sesuai dengan era normal baru dan memastikan dieksekusi serta di evaluasi berkala.
• Merawat aset, agar usai pandemi bisa beroperasi dengan baik.
• Evaluasi belanja modal dan biaya operasional perusahaan.
• Update dengan peraturan terbaru dari unsur kesehatan dan berkomunikasi untuk pelaksanaan dengan unsur kesehatan di unit operasional perusahaan.
• Meningkatkan kebersihan dan sanitasi.
• Menerapkan teknologi yang bermanfaat untuk di aplikasikan terkait dengan prosedur-prosedur baru.
• Membangun sistem dan platform online untuk bisnis baru.
• Mencari mitra strategis untuk pemanfaatan idle asset dan pengembangan usaha


Komunikasi & Tanggung Jawab Sosial
• Mengembangkan strategi hubungan masyarakat dan menerapkannya di tingkat masyarakat untuk berbicara tentang manfaat pariwisata dan mengingatkan orang untuk menyambut wisatawan dengan baik ketika waktunya tepat.
• Kerjasama dengan otoritas kesehatan untuk sosialisasi meminimalkan penyebaran wabah.
• Menawarkan pelatihan dan pelatihan pengembangan bagi orang-orang dan mitra binaan atau UMKM untuk mengembangkan keterampilan dan bekerja sama dengan perusahaan di masa depan.
• Tetap melakukan Komunikasi kepada stakeholder terkait perkembangan dan peran perusahaan termasuk update dari Tim Krisis secara tepat waktu.
• Tentukan satu juru bicara diluar Pimpinan perusahaan.
• Memanfaatkan media sosial secara efektif dengan konten yang update dan bervariasi.
• Keluarkan pesan utama bahwa sudah siap untuk kedatangan wisatawan dan bisnis dengan protokol kesehatan sesuai pandemi. Sampaikan kepada mitra kerjasama, biro perjalanan, Online Travel Agent, serta saluran pendapatan lainnya.
• Gunakan pihak ketiga, opinion leader yang cocok dan terjangkau untuk menyampaikan pesan
• Terus publikasikan hal-hal positif, berita positif tentang kebangkitan kedatangan wisatawan, kebersihan dan kesehatan, pembangunan kembali dan peningkatan infrastruktur serta dukungan masyarakat dan pemerintah.
• Melaporkan dan memantau kemajuan, mempublikasikan perubahan dan peningkatan yang dilakukan.
• Kolaborasi dengan pemerintah di semua tingkatan untuk menyampaikan pesan yang konsisten kepada konsumen
• Dorong pemerintah dan penduduk setempat untuk mengunjungi tempat wisata atau tempat-tempat lokal terlebih dahulu. Orang-orang lebih sadar akan situasi sebenarnya dari epidemi lokal, sehingga mereka lebih percaya diri untuk melakukan beberapa kegiatan yang berhubungan dengan pariwisata di daerah setempat.
• Jelaskan proses pelaksanaan sanitasi di Destinasi Tujuan Wisata.
• Mempromosikan pariwisata keberlanjutan, menghargai alam dan mendidik wisatawan untuk tidak merusak lingkungan fisik dan sosial.

Karakter Produk dan Pelayanan Pada Saat Pandemi

Organisasi harus ON+LINE dalam era normal baru!
O > ON THE GO (Mudah Dibawa, Dikirim & Di-akses)
Produk atau Jasa Anda harus mudah dibeli dengan dibawa, dikirim, atau di-akses melalui mobile devices dan laptopN > NEAT (Rapi & Bersih)
Produk Anda harus mencerminkan kualitas tinggi & dapat dipercaya
L > LOUD (Terdengar Beda dengan Keras)
Produk Anda harus punya Discriminator atau Pembeda & “bersuara” keras di pasar Anda
I > INTERNET (Tersedia di/melalui Internet)
Produk Anda tersedia, mudah ditemukan & mudah dibeli di/melalui internet
N > NOVELTY (Selalu Ada Pembaruan)
Produk Anda selalu harus diperbarui, baik relaunch atau launch sebagai inovasi
E > ENVIRONMENTAL & HEALTH (Ramah Lingkungan & Kesehatan)
Produk Anda ramah terhadap lingkungan (environmental friendly) & sehat bagi yang menggunakannya (health concious).

Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat. Jika ada yang belum berkenan mohon dapat dimaafkan karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber: Pengalaman di Organisasi, Webinar Pariwisata, Kolega, Peter Tarlow dan Y. Pauly

Konvensi Nasional Humas 2019

Mengusung tema Kearifan Lokal Solusi Global, Konvensi Nasional Humas 2019 hadir di Yogyakarta pada tanggal 16-17 Desember 2019.

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian dan tantangan yang semakin kompleks. Dibutuhkan lebih dari sekadar keahlian praktikal, humas harus mempertimbangkan berbagai aspek termasuk kearifan lokal.

Pepatah, Filosofi, Falsafah, Kata Bijak adalah beberapa contoh yang bisa kita gali untuk bisa kita terapkan dalam perencanaan dan strategi komunikasi. Dengan keberagaman yang kita miliki dan harmoni masyarakat yang terjalin menjadi kekuatan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kita perlu membangun peta jalan Humas Indonesia yang mampu menjawab tantangan melalui kearifan lokal bangsa Indonesia.

Pariwisata Sebagai Ujung Tombak Reputasi Indonesia

Setiap negara adalah sebuah merek
Ini adalah perspektif dalam memandang suatu negara, artinya setiap negara memiliki citra di benak orang-orang yang berada di belahan dunia lain. Beberapa negara dikenal karena hal-hal yang baik, ada yang buruk, dan ada juga negara yang belum dikenal. Kelompok Negara yang belum dikenal ini yang paling memiliki peluang terbesar untuk membangun merek dari awal. Sejarah mereka atau peristiwa terkini, seperti yang dijelaskan oleh orang lain (sejarawan, media massa, dll) telah membentuk citra negara tersebut, baik atau buruk.

Pemerintah harus menjadi katalisator proses branding
Setiap negara harus mengendalikan mereknya sendiri. Artinya harus ada investasi dan manajemen pengelolaan merek dari sebuah negara. Ini adalah tugas yang harus dipimpin oleh pemerintah. Namun apakah menjadi tanggung jawab pemerintah saja dalam mengelola merek ini? Tentu tidak, pemerintah harus mendapatkan dukungan dari semua pemangku kepentingan utama, komunitas bisnis dsb. Langkah –langkah strategis serta inisiatif yang jelas bermanfaat harus dilakukan, dukungan-dukungan akan mengalir dari semua elemen masyarakat.

Faktor Penunjang Reputasi Negara
Menurut Reputation Institute ada Tiga faktor yang dapat mendorong reputasi nasional:

  1. 37,9% berasal dari persepsi terhadap lingkungan, antara lain:
    a. Perlakuan terhadap tamu asing,
    b. keindahan alam,
    c. gaya hidup,
    d. kesehatan lingkungan.
  2. 37% dari tata kelola negara, antara lain:
    a. keselamatan publik,
    b. transparansi dan tingkat korupsi yang rendah
    c. tanggung jawab internasional dan aktif dalam komunitas global
    d. kebijakan sosial dan ekonomi.
  3. 25,1% dari ekonomi negara antara lain:
    a. Tenaga kerja yang berpendidikan dan andal,
    b. kontribusi terhadap budaya global,
    c. Produk dan layanan yang berkualitas tinggi dan dikenal.
    d. Handal dalam Teknologi.

Pariwisata sebagai ujung tombak Reputasi
Menurut GoodNews From Southeast Asia, Pada tahun 2018 kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sebesar 15,8 juta wisman, berada di urutan ke 4 di bawah Thailand, Malaysia dan Singapura serta Vietnam yang terus mendekati di posisi ke 5 dengan pencapaian 15,4 juta wisman.
Pariwisata adalah cerminan untuk memberikan gambaran suatu negara kepada dunia internasional. Baik dan buruknya wajah Negara di mata global sedikit banyak akan ditentukan bagaimana Negara tersebut memperlakukan, menata, sekaligus mengelola sektor pariwisata.
Begitu pun kaitannya dengan perekonomian, pariwisata ialah pilar pembangunan yang harus terus dikedepankan. Pariwisata berpotensi menjadi leading sektor perekonomian nasional Karena pariwisata merupakan industri yang paling mudah dan cepat menghasilkan devisa. Ia juga punya multiplier effect tinggi. Ketika pariwisata bekerja, pada saat itu pula ekonomi masyarakat akan bergerak dan lapangan kerja tercipta. Target 20 juta wisman pada tahun 2019 harus di dukung oleh segenap masyarakat.

Peran Humas dalam Pertumbuhan Pariwisata
Indonesia punya modal kuat di sektor pariwisata dengan keindahan, kekayaan alam, serta keanekaragaman budaya yang luar biasa, mungkin bisa disebut salah satu yang terbaik di dunia. Untuk memicu perubahan berikut usulan narasi utama yang bisa di bangun oleh humas terkait mempercecpat pertumbuhan pariwisata di Indonesia

  1. Warga Negara Indonesia adalah warga yang ramah terhadap tamu asing.
  2. Indonesia adalah tempat yang aman.
  3. Indonesia adalah tempat yang indah.
  4. Indonesia adalah negara yang menyenangkan.
  5. Indonesia kaya dengan sejarah serta kebudayaan yang beraneka ragam.

Langkah Komunikasi Strategis

  1. Internalisasikan nilai-nilai yang ingin dicapai kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi bagian dari perubahan baru kemudian nilai-nilai tersebut di internasionalisasi.
  2. Identifikasi sumber daya dan tentukan target negara yang di tuju sebagai pasar potensial.
  3. Memahami reputasi Indonesia saat ini dan menetapkan harapan masyarakat global akan Indonesia.
  4. Sesuaikan pengiriman pesan dengan realisasi.
  5. Mengintegrasikan tim yang bertanggung jawab atas reputasi Indonesia.
  6. Menggunakan influencer Global dan juga merek-merek terkemuka Indonesia yang reputasi nya sudah mendunia untuk mendorong reputasi negara.
  7. Evaluasi dan Monitor atas kemajuan yang terjadi.

Pentingnya Tourism Center untuk Suku Baduy

Latar belakang sampai akhirnya keluar tulisan ini adalah di karenakan pengalaman beberapa kali mengunjungi Suku Baduy serta atas dasar minat terhadap pariwisata serta kekhawatiran terhadap kelestarian Kebudayaan Suku Baduy. 

Seperti kita ketahui  Tourism Center adalah Pusat informasi tentang apa dan bagaimana di suatu Daerah Tujuan Wisata, demikian pula dengan Suku Baduy yang menurut ku butuh satu pusat kegiatan dan pusat informasi yang mana tujuannya adalah Pengelolaan Destinasi Wisata, Pemanfaatan Ekonomi untuk masyarakat lokal, Pelestarian Kebudayaan Suku Baduy serta Pelestarian Lingkungan itu sendiri agar dapat di wariskan turun temurun kepada generasi berikutnya serta kepada masyarakat penikmat pariwisata tentunya.

Adapun sebagai destinasi wisata, Suku Baduy sudah memenuhi beberapa kriteria yaitu:

  1. Ada sesuatu yang dapat dilihat

Tempat tersebut dapat menarik minat banyak wisatawan untuk mengunjunginya, banyaknya wisatawan yang datang berarti tempat tersebut sudah bisa dijadikan obyek wisata. Hal ini bisa berupa Alam Suku Baduy dan aktifitas keseharian dari Suku ini.

  1. Ada sesuatu yang dapat dilakukan

Ada sesuatu yang dapat dilakukan oleh para wisatawan selama melakukan perjalanan wisata  pada obyek wisata yang dituju, contohnya: tracking, fotografi, belajar kesenian dan kerajinan khas serta kegiatan studi.

  1. Ada sesuatu yang dapat dibeli

Suatu obyek wisata harus mampu menjual barang-barang souvenir dari suatu objek wisata tersebut sehingga wisatawan yang datang bisa sekaligus membeli oleh-oleh sehingga dapat meningkatkan jumlah pendapatan daerah.

Selain itu saya melihat ada beberapa potensi lain yang dapat menjadikan Suku Baduy begitu menarik dari segi pariwisata antara lain :

  • Tata cara kehidupannya
  • Hasil ciptaan berupa benda-benda bersejarah, kebudayaan dan keagamaan.

Karakter Destinasi Wisata di atas seperti di sebutkan di atas sudah terdapat di Suku Baduy tapi sepertinya belum di kelola atau di lakukan secara terorganisir sehingga kelak dapat bermanfaat untuk Masyarakat Lokal. Maka dari itu menurut saya perlunya pusat informasi & pusat kegiatan yang dapat menjadi wadah pengembangan Daerah Tujuan Wisata Suku Baduy

Tourism Center ini terdiri dari :

  • Pusat Informasi

Berisi tentang Sejarah Suku Baduy, Jenis paket wisata (what to do ), Agenda Kegiatan, Website, Sosial Media, Data & Statistik, Organisasi pengelola (Pemuda Adat), Poster & Flyer, Peta serta Informasi umum dan Partner pengelola (Komunitas terdaftar dsb)

  • Pusat Kegiatan Seni dan Budaya

Klasifikasi Kesenian dan Kebudayaan yang ada di Suku Baduy serta tempat latihan dan pengembangan. Sebagai  contoh pengembangan musik karinding, tari-tarian, upacara adat, ritual dsb.

  • Pusat Niaga Kerajinan Khas

Sebagai wadah distribusi ataupun pelatihan, pengembangan, pengemasan produk khas Suku Baduy seperti Madu, Tas, Kerajinan Bambu, Ukiran, Gelang, Kalung, Pakaian dsb.

Selain Tourism Center ini ada hal lain yang terlintas yakni Dampak Pariwisata terhadap Ekonomi, Sosial Budaya dan Lingkungan Fisik Masyarakat Suku Baduy pasti baik itu Positif ataupun Negatif misalnya, (sementara dampak negatif dulu yah, dampak positifnya juga banyak kok hehe )

Dampak negatif secara ekonomi

  • Ketergantungan terhadap Pariwisata
  • Musiman
  • Timbul biaya

Dampak Negatif Sosial Budaya

  • Berkurangnya pekerja tradisional/adat
  • Bisa terjadi kesenjangan sosial dgn adanya kesenjangan pendapatan
  • Banyaknya pekerja musiman
  • Meningkatnya jumlah pendatang baru dari Area sekitar Suku Baduy
  • Potensi konflik agama / aturan suku / kearifan lokal
  • Transformasi Identitas dan Nilai budaya/tradisi
  • Naiknya harga – harga barang pokok ataupun harga tanah
  • Perilaku menyimpang karena akulturasi
  • Kriminal
  • Komersialisasi budaya

Dampak Negatif Lingkungan Fisik

  • Polusi , buang sampah sembarangan

Tapi dimana ada masalah pasti ada solusi , kurang lebih pendekatannya menggunakan metode di bawah ini , bagamana setiap elemen dapat merumuskan setiap permasalahan yang ada dengan mengacu kepada empat elemen dasar ini

Pendekatan dalam menganalisis situasional diantaranya pendekatan VICE.

VICE sebagai kunci keberhasilan perencanaan strategis pariwisata

Berdasarkan faktor-faktor di atas, keberhasilan  rencana strategis harus dapat mengidentifikasi empat aspek yaitu:

  1. Menyambut, melibatkan dan memuaskan Visitor (pengunjung),
  2. Mencapai keuntungan dan kemakmuran bagi Industry (Pemerintah)
  3. Mengikutsertakan dan memberikan manfaat bagi Community (masyarakat),
  4. Melindungi dan mempertahankan Environment (lingkungan) lokal.

Demikian kira2 pemikiran sederhana ini, tentunya masih jauh dari sempurna dan masih banyak yg bisa di kembangkan seperti bagaimana mengelola pengunjung, bagaimana memasarkan destinasi wisata ini dsb. Untuk saran dan kritik langsung aja ya kirim email ke ‘akhmadzulfikrii@gmail.com’.