5 Faktor Penentu Turis Asing kembali Wisata ke Indonesia

Seperti kita ketahui dan sudah diulas pada tulisan-tulisan sebelumnya bahwa industri pariwisata lah yang paling terdampak karena pandemi covid-19 ini karena mengalami hardest hit dan falling like a stars kalau kata James Arthur 😀

Indonesia sebagai salah satu negara yang mengandalkan pariwisata, khususnya Bali, sebagai magnet dunia pastinya mengandalkan kedatangan turis asing. Bali telah mengalami imbas penurunan pendapatan pariwisata yang sangat drastis. Maskapai penerbangan, hotel, restauran, dan sektor pariwisata lainnya adalah berbagai industri yang saat ini menghadapi ketidakpastian dan berupaya untuk bertahan.

Walaupun saat ini banyak negara termasuk Indonesia telah mencoba untuk melakukan harmonisasi protokol kesehatan dan melalui inisiatif travel corridor untuk wisatawan mancanegara, serta mendorong upaya pemasaran travel domestik untuk mengembalikan kepercayaan responden untuk kembali berwisata. Industri pariwisata masih membutuhkan waktu untuk kembali pulih.

Ditulis kembali dari sebuah survey oleh Kleopas Danang Bintoroyakti, Survey ini memiliki 30 pertanyaan dan melibatkan 102 responden dari 28 negara antara lain 13% responden tinggal di Britania Raya dan Irlandia, Singapura dan Kanada, 10% responden tinggal di Australia, 8% responden tinggal di Amerika Serikat, 6% responden tinggal di Malaysia, 5% responden masing-masing tinggal di Belanda & Hong Kong, 4% responden tinggal di Thailand dan 3% responden tinggal di Prancis.

22.5% responden mengalokasikan US$ 1,500 – US$ 2,500 tiap tahun untuk bepergian, kemudian disusul 19% responden mengalokasikan US$ 5,000 – US$ 10,000 (19%). Budget travel disini termasuk tiket penerbangan, akomodasi dan belanja.

69% responden yang mengikuti survei ini adalah laki-laki, disusul perempuan (31%), sementara itu, untuk kategori umur mayoritas adalah umur 45-60 tahun (33%), disusul kategori umur 35-45 tahun (31%) dan 25-35 tahun (19%.

31% responden mengunjungi Indonesia sebanyak 2-4 kali dalam 10 tahun, kemudian disusul responden yang mengunjungi Indonesia >6 kali (28%) dan hanya 1 kali (22%). Angka ini dapat menjelaskan bahwa profile pengunjung asing ke Indonesia yang melakukan kunjungan berulang.

Destinasi Pilihan

Bali masih menjadi pilihan utama, 30%. Kemudian yang kedua adalah Jakarta dengan 18% disusul dengan Lombok (13%), Borobudur Temple (19%) and Yogyakarta (9%), Surabaya, (6%), Raja Ampat (6%) dengan mayoritas tujuan perjalanan responden adalah berlibur (51%) disusul oleh tujuan bisnis (36%) dan (13%) porsi kecil untuk visiting friends and relatives.

Faktor Penentu

Ada 5 hal utama yang menjadi faktor penentu untuk mengunjungi Indonesia kembali antara lain responden diminta untuk memilih 5 hal yang mereka senangi terkait pengalaman perjalanan mereka ke Indonesia. Keramahtamahan Indonesia merupakan hal tertinggi yang dipilih, disusul makanan dan minuman, budaya, kekayaan alam serta keterjangkauan harga.

Dan ada 5 hal utama juga yang menjadi hambatan untuk berwisata ke Indonesia antara lain Seamless connectivity (Transportasi Publik) adalah hal tertinggi yang dipilih responden, disusul infrastruktur teknologi (IT) seperti Wi-Fi, travel platform, serta masalah kebersihan, dan lain-lain seperti kemacetan lalu lintas, infrastruktur daerah wisata serta pengalaman berbelanja.

Sementara 5 faktor utama penentu yang akan membuat mereka untuk bepergian di masa new normal adalah protokol kesehatan di destinasi pariwisata, kemudian disusul oleh akomodasi yang bersih dan sehat, test COVID-19 sebelum keberangkatan, regulasi karantina serta implementasi protokol kesehatan di pesawat.

Loyalitas Pelanggan

55% atau mayoritas responden memilih bahwa mereka fleksibel dalam menentukan metode penukaran miles untuk tiket perjalanan mereka dan keluarganya. 14% responden menyatakan mereka akan menukarkan air miles mereka, sementara itu 31% menyatakan bahwa mereka tidak menukarkan miles untuk tiket perjalanan bagi dirinya dan keluarga. 75.5% atau mayoritas responden menyatakan mereka tergabung dalam program loyalitas pelanggan maskapai, sementara 24.5% responden tidak tergabung dalam program loyalitas pelanggan.

43% responden menyatakan mereka memilih untuk bermalam di akomodasi berbintang 4-5, 29% memilih akomodasi berbintang 3-4. Sementara terdapat persentase yang hampir sama dengan mereka yang memilih tidak keberatan dengan akomodasi tanpa bintang selama aman, bersih, nyaman dan memiliki review yang bagus (29%)

Aspirasi Travelers

  • 54% responden menyatakan bahwa mereka masih tidak yakin untuk terbang ke Indonesia karena mereka harus mengetahui implementasi protokol kesehatan di Indonesia. 26% responden menyatakan mereka mau langsung mengunjungi Indonesia dan 20% menyatakan akan menunggu vaksin. Karena masih ada 54% yang masih tidak yakin, IMHO sekarang adalah waktu yang tepat bagi Indonesia untuk memulai campaign destinasi dan health protocol implementation yang sudah diterapkan.
  • 33% responden menyatakan mereka akan pergi ke lebih dari 1 destinasi apabila mereka sudah diizinkan terbang ke Indonesia. 24% responden menyatakan bahwa mereka hanya akan mengunjungi 1 destinasi. 43% menyatakan bahwa mereka masih belum tahu karena bergantung atas program paket tur dan itinerarynya. Dapat disimpulkan bahwa saat ini waktu yang tepat untuk mulai mengemas paket tur dan pemasaran internasional.
  • 50% responden menyatakan bahwa mereka memilih untuk terbang direct non-stop dari negara mereka ke Indonesia. Sementara 26% menjawab tidak keberatan untuk terbang dengan transit. 24% menyatakan fleksibel, bergantung atas konektivitas maskapai pilihan mereka.

Dampak Wabah Virus Corona terhadap Pariwisata Global dan Strategi Antisipasinya

Semenjak dilaporkan pertama kali pada 7 januari 2020, wabah virus corona sampai  19 Februari 2020 seperti di lansir worldometer terdeteksi ada 75,227 kasus di seluruh dunia dengan 2012 jumlah korban meninggal dunia dan sejumlah 14,917 suspect dinyatakan telah sembuh.

Bagaimana dampaknya terhadap industri pariwisata global? Seperti kita ketahui dalam beberapa tahun terakhir, Cina telah muncul sebagai negara maju dalam industri pariwisata global, baik sebagai target market wisatawan ataupun sebagai destinasi tujuan wisata yang keduanya mempunyai dampak multiplyer menyediakan mata pencaharian bagi jutaan orang.

Tetapi setelah merebaknya  wabah Virus Corona, banyak orang Cina membatalkan atau menunda rencana perjalanan mereka serta wisatawan juga membatalkan kunjungan mereka ke Cina karena pihak berwenang memberlakukan pembatasan perjalanan, hampir semua negara menutup sementara penerbangan ke Cina dan itu sangat berdampak kepada ekonomi di Cina dan pariwisata global padahal Pariwisata Cina mulai menggeliat sejak wabah sindrom pernafasan akut (SARS) pada tahun 2003, jumlah wisatawan Tiongkok yang bepergian per tahun telah meningkat lebih dari tujuh kali lipat menurut aljazeera.

Tahun 2003: 20, 2 juta wisatawan

Tahun 2010: 57, 4 juta wisatawan

Tahun 2018: 149, 7 juta wisatawan

“Pariwisata global, yang sangat bergantung pada wisatawan Cina, dapat mengalami pertumbuhan negatif lebih dari 30 persen,” kata Iris Pang, ekonom ING Wholesale Banking, Cina.

Berikut beberapa Negara yang pariwisata nya terdampak Wabah Virus Corona:

  1. Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand (TAT), Yuthasak Supasorn, mengatakan bahwa Virus Corona telah memberikan “pukulan berat” kepada industri pariwisata Thailand. Kedatangan wisataawan Cina diperkirakan turun sebanyak 80 persen dalam empat bulan pertama tahun ini. Yuthasak mengatakan penurunan itu dapat menyebabkan hilangnya pendapatan sekitar 98 miliar baht (US $ 3,1 miliar) – Aseanpost
  2. Kepala Departemen Informasi, Kebudayaan dan Pariwisata Laos, Somkhit Vongpanya mengatakan bahwa jumlah wisatawan Tiongkok yang melintasi perbatasan ke provinsi Bokeo telah melambat setelah wabah Virus Corona. – Aseanpost
  3. Yunani, Santorini sebagai destinasi tujuan utama, pada saat ini baru mencapai 1000 wisatawan dari target 3000 wisatawan periode ini. – Euronews
  4. Itali, Presiden perhotelan Venesia mengatakan bahwa krisis yang berkepanjangan bisa menelan kerugian € 4,5 miliar. – Euronews
  5. Singapura, penurunan 25% hingga 30% pada kedatangan wisatawan karena wabah koronavirus dan kehilangan sekitar 18.000 hingga 20.000 wisatawan per hari, dan angka-angka itu dapat jatuh lebih jauh jika situasinya bertahan lebih lama, Keith Tan, kepala eksekutif Singapore Tourism Board. Bloomberg
  6. Vietnam, menurut perkiraan pemerintah, pengunjung internasional ke Vietnam dapat berkurang secara signifikan hingga 50 hingga 60 persen. – thediplomat
  7. Amerika Serikat, Oxford Economics memperkirakan bahwa AS akan mengalami kehilangan 1,6 juta pengunjung dari daratan Tiongkok tahun ini. – CNBC
  8. Irlandia Utara, 3.000 kamar hotel telah dibatalkan oleh wisatawan Tiongkok antara Januari dan Maret. – BBC
  9. Uni Emirat Arab, Data dari departemen Pemasaran Pariwisata dan Perdagangan Dubai menunjukkan 291.662 wisatawan Tiongkok mengunjungi Emirat pada kuartal pertama tahun 2019; analis ritel memperkirakan sebagian besar akan hilang pada kuartal ini. – CNBC
  10. Jepang, akan “sangat sulit” bagi Jepang untuk mencapai target 40 juta wisatawan pada tahun 2020 dampaknya akan terasa di luar hotel, restoran, dan lokasi wisata, karena banyak wisatawan Tiongkok mengunjungi Jepang secara khusus untuk berbelanja. Krisis telah membuat indeks Nikkei kunci Jepang anjlok dengan saham di Shiseido, merek kosmetik yang populer di kalangan wisatawan Cina turun lebih dari lima persen. Yuki Takashima, ekonom di Nomura Securities. – BBC
  11. Indonesia, Target wisman tadinya sebelum virus corona, sekitar 17 juta. Tetapi karena ada corona, ya kita coba realistis, semua negara saja merevisi,” ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio. – Kontan, Virus Corona Berpotensi Gerus Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 0, 3 Persen.  – Liputan6
Beberapa langkah Negara-Negara dalam memulihkan industri pariwisata
  1. Singapura, Langkah-langkah pemotongan biaya telah diberlakukan oleh sektor perhotelan, seperti meminta beberapa pekerja untuk meninggalkan atau pergi bekerja selama empat hari seminggu.
  2. Malaysia, Merevisi rencana promosi untuk fokus pada pasar selain China, Kampanye bahwa Malaysia siap menangani wabah virus. Malaysia berada di peringkat ketiga di Asia untuk Negara yang Paling Disiapkan untuk pandemi, setelah Thailand dan Korea Selatan dalam Indeks Keamanan Kesehatan Global 2019. Malaysia berusaha untuk terus memperkuat komitmen dalam memastikan keselamatan orang-orang dan wisatawan yang datang dan memberikan jaminan bahwa Malaysia aman untuk bepergian, Peningkatan inisiatif promosi dan pemasaran untuk pariwisata domestik dan inbound, review tentang tarif Pajak Pariwisata untuk mendorong lebih banyak wisatawan untuk memilih Malaysia sebagai tujuan liburan pilihan, Meningkatkan upaya pemasaran untuk memperbaiki kesan bahwa Malaysia tidak aman; mendorong pariwisata lintas batas; dan meringankan persyaratan visa, terutama bagi wisatawan India, untuk menutupi kekurangan wisatawan dari Cina.
  • Indonesia, Salah satu upaya yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah adalah pemberian diskon atau insentif, baik untuk wisatawan mancanegara (Wisman) maupun wisatawan nusantara (Wisnus). Kemenpar siapkan tiga paket wisata domestik untuk antisipasi menurunnya kunjungan wisatawan akibat virus Corona, Kemenparekraf berencana memberikan bantuan promosi dengan membuat bundled package penerbangan, akomodasi, dan atraksi dengan harga yang kompetitif, bekerja sama dengan Online Travel Agent (OTA) dan juga Travel Agent/Tour Operator (TA/TO). Selain itu juga memberikan bantuan promosi dengan skema joint promotion, Membuat stimulus berupa potongan harga atau diskon khususnya di sektor pariwisata untuk memitigasi dampak virus corona. Seperti harga hotel dan pesawat penerbangan ke tiga destinasi wisata yang mengalami penurunan jumlah wisatawan, seperti Bali, Sulawesi Utara, dan Bintan.

Peran pariwisata meminimalisir dampak virus corona:

Selama masa krisis, pariwisata harus memenuhi tanggung jawabnya sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat dunia. Kerja sama sektor pariwisata akan sangat penting dalam menghentikan penyebaran virus dan membatasi dampaknya pada masyarakat. Turis juga memiliki tanggung jawab untuk menginformasikan diri mereka sebelum mereka bepergian untuk membatasi ancaman penularan, dan mereka harus mengikuti rekomendasi WHO dan otoritas kesehatan nasional serta panduan khusus pariwisata setiap negara.

Pariwisata Sebagai Ujung Tombak Reputasi Indonesia

Setiap negara adalah sebuah merek
Ini adalah perspektif dalam memandang suatu negara, artinya setiap negara memiliki citra di benak orang-orang yang berada di belahan dunia lain. Beberapa negara dikenal karena hal-hal yang baik, ada yang buruk, dan ada juga negara yang belum dikenal. Kelompok Negara yang belum dikenal ini yang paling memiliki peluang terbesar untuk membangun merek dari awal. Sejarah mereka atau peristiwa terkini, seperti yang dijelaskan oleh orang lain (sejarawan, media massa, dll) telah membentuk citra negara tersebut, baik atau buruk.

Pemerintah harus menjadi katalisator proses branding
Setiap negara harus mengendalikan mereknya sendiri. Artinya harus ada investasi dan manajemen pengelolaan merek dari sebuah negara. Ini adalah tugas yang harus dipimpin oleh pemerintah. Namun apakah menjadi tanggung jawab pemerintah saja dalam mengelola merek ini? Tentu tidak, pemerintah harus mendapatkan dukungan dari semua pemangku kepentingan utama, komunitas bisnis dsb. Langkah –langkah strategis serta inisiatif yang jelas bermanfaat harus dilakukan, dukungan-dukungan akan mengalir dari semua elemen masyarakat.

Faktor Penunjang Reputasi Negara
Menurut Reputation Institute ada Tiga faktor yang dapat mendorong reputasi nasional:

  1. 37,9% berasal dari persepsi terhadap lingkungan, antara lain:
    a. Perlakuan terhadap tamu asing,
    b. keindahan alam,
    c. gaya hidup,
    d. kesehatan lingkungan.
  2. 37% dari tata kelola negara, antara lain:
    a. keselamatan publik,
    b. transparansi dan tingkat korupsi yang rendah
    c. tanggung jawab internasional dan aktif dalam komunitas global
    d. kebijakan sosial dan ekonomi.
  3. 25,1% dari ekonomi negara antara lain:
    a. Tenaga kerja yang berpendidikan dan andal,
    b. kontribusi terhadap budaya global,
    c. Produk dan layanan yang berkualitas tinggi dan dikenal.
    d. Handal dalam Teknologi.

Pariwisata sebagai ujung tombak Reputasi
Menurut GoodNews From Southeast Asia, Pada tahun 2018 kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sebesar 15,8 juta wisman, berada di urutan ke 4 di bawah Thailand, Malaysia dan Singapura serta Vietnam yang terus mendekati di posisi ke 5 dengan pencapaian 15,4 juta wisman.
Pariwisata adalah cerminan untuk memberikan gambaran suatu negara kepada dunia internasional. Baik dan buruknya wajah Negara di mata global sedikit banyak akan ditentukan bagaimana Negara tersebut memperlakukan, menata, sekaligus mengelola sektor pariwisata.
Begitu pun kaitannya dengan perekonomian, pariwisata ialah pilar pembangunan yang harus terus dikedepankan. Pariwisata berpotensi menjadi leading sektor perekonomian nasional Karena pariwisata merupakan industri yang paling mudah dan cepat menghasilkan devisa. Ia juga punya multiplier effect tinggi. Ketika pariwisata bekerja, pada saat itu pula ekonomi masyarakat akan bergerak dan lapangan kerja tercipta. Target 20 juta wisman pada tahun 2019 harus di dukung oleh segenap masyarakat.

Peran Humas dalam Pertumbuhan Pariwisata
Indonesia punya modal kuat di sektor pariwisata dengan keindahan, kekayaan alam, serta keanekaragaman budaya yang luar biasa, mungkin bisa disebut salah satu yang terbaik di dunia. Untuk memicu perubahan berikut usulan narasi utama yang bisa di bangun oleh humas terkait mempercecpat pertumbuhan pariwisata di Indonesia

  1. Warga Negara Indonesia adalah warga yang ramah terhadap tamu asing.
  2. Indonesia adalah tempat yang aman.
  3. Indonesia adalah tempat yang indah.
  4. Indonesia adalah negara yang menyenangkan.
  5. Indonesia kaya dengan sejarah serta kebudayaan yang beraneka ragam.

Langkah Komunikasi Strategis

  1. Internalisasikan nilai-nilai yang ingin dicapai kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi bagian dari perubahan baru kemudian nilai-nilai tersebut di internasionalisasi.
  2. Identifikasi sumber daya dan tentukan target negara yang di tuju sebagai pasar potensial.
  3. Memahami reputasi Indonesia saat ini dan menetapkan harapan masyarakat global akan Indonesia.
  4. Sesuaikan pengiriman pesan dengan realisasi.
  5. Mengintegrasikan tim yang bertanggung jawab atas reputasi Indonesia.
  6. Menggunakan influencer Global dan juga merek-merek terkemuka Indonesia yang reputasi nya sudah mendunia untuk mendorong reputasi negara.
  7. Evaluasi dan Monitor atas kemajuan yang terjadi.

Pentingnya Tourism Center untuk Suku Baduy

Latar belakang sampai akhirnya keluar tulisan ini adalah di karenakan pengalaman beberapa kali mengunjungi Suku Baduy serta atas dasar minat terhadap pariwisata serta kekhawatiran terhadap kelestarian Kebudayaan Suku Baduy. 

Seperti kita ketahui  Tourism Center adalah Pusat informasi tentang apa dan bagaimana di suatu Daerah Tujuan Wisata, demikian pula dengan Suku Baduy yang menurut ku butuh satu pusat kegiatan dan pusat informasi yang mana tujuannya adalah Pengelolaan Destinasi Wisata, Pemanfaatan Ekonomi untuk masyarakat lokal, Pelestarian Kebudayaan Suku Baduy serta Pelestarian Lingkungan itu sendiri agar dapat di wariskan turun temurun kepada generasi berikutnya serta kepada masyarakat penikmat pariwisata tentunya.

Adapun sebagai destinasi wisata, Suku Baduy sudah memenuhi beberapa kriteria yaitu:

  1. Ada sesuatu yang dapat dilihat

Tempat tersebut dapat menarik minat banyak wisatawan untuk mengunjunginya, banyaknya wisatawan yang datang berarti tempat tersebut sudah bisa dijadikan obyek wisata. Hal ini bisa berupa Alam Suku Baduy dan aktifitas keseharian dari Suku ini.

  1. Ada sesuatu yang dapat dilakukan

Ada sesuatu yang dapat dilakukan oleh para wisatawan selama melakukan perjalanan wisata  pada obyek wisata yang dituju, contohnya: tracking, fotografi, belajar kesenian dan kerajinan khas serta kegiatan studi.

  1. Ada sesuatu yang dapat dibeli

Suatu obyek wisata harus mampu menjual barang-barang souvenir dari suatu objek wisata tersebut sehingga wisatawan yang datang bisa sekaligus membeli oleh-oleh sehingga dapat meningkatkan jumlah pendapatan daerah.

Selain itu saya melihat ada beberapa potensi lain yang dapat menjadikan Suku Baduy begitu menarik dari segi pariwisata antara lain :

  • Tata cara kehidupannya
  • Hasil ciptaan berupa benda-benda bersejarah, kebudayaan dan keagamaan.

Karakter Destinasi Wisata di atas seperti di sebutkan di atas sudah terdapat di Suku Baduy tapi sepertinya belum di kelola atau di lakukan secara terorganisir sehingga kelak dapat bermanfaat untuk Masyarakat Lokal. Maka dari itu menurut saya perlunya pusat informasi & pusat kegiatan yang dapat menjadi wadah pengembangan Daerah Tujuan Wisata Suku Baduy

Tourism Center ini terdiri dari :

  • Pusat Informasi

Berisi tentang Sejarah Suku Baduy, Jenis paket wisata (what to do ), Agenda Kegiatan, Website, Sosial Media, Data & Statistik, Organisasi pengelola (Pemuda Adat), Poster & Flyer, Peta serta Informasi umum dan Partner pengelola (Komunitas terdaftar dsb)

  • Pusat Kegiatan Seni dan Budaya

Klasifikasi Kesenian dan Kebudayaan yang ada di Suku Baduy serta tempat latihan dan pengembangan. Sebagai  contoh pengembangan musik karinding, tari-tarian, upacara adat, ritual dsb.

  • Pusat Niaga Kerajinan Khas

Sebagai wadah distribusi ataupun pelatihan, pengembangan, pengemasan produk khas Suku Baduy seperti Madu, Tas, Kerajinan Bambu, Ukiran, Gelang, Kalung, Pakaian dsb.

Selain Tourism Center ini ada hal lain yang terlintas yakni Dampak Pariwisata terhadap Ekonomi, Sosial Budaya dan Lingkungan Fisik Masyarakat Suku Baduy pasti baik itu Positif ataupun Negatif misalnya, (sementara dampak negatif dulu yah, dampak positifnya juga banyak kok hehe )

Dampak negatif secara ekonomi

  • Ketergantungan terhadap Pariwisata
  • Musiman
  • Timbul biaya

Dampak Negatif Sosial Budaya

  • Berkurangnya pekerja tradisional/adat
  • Bisa terjadi kesenjangan sosial dgn adanya kesenjangan pendapatan
  • Banyaknya pekerja musiman
  • Meningkatnya jumlah pendatang baru dari Area sekitar Suku Baduy
  • Potensi konflik agama / aturan suku / kearifan lokal
  • Transformasi Identitas dan Nilai budaya/tradisi
  • Naiknya harga – harga barang pokok ataupun harga tanah
  • Perilaku menyimpang karena akulturasi
  • Kriminal
  • Komersialisasi budaya

Dampak Negatif Lingkungan Fisik

  • Polusi , buang sampah sembarangan

Tapi dimana ada masalah pasti ada solusi , kurang lebih pendekatannya menggunakan metode di bawah ini , bagamana setiap elemen dapat merumuskan setiap permasalahan yang ada dengan mengacu kepada empat elemen dasar ini

Pendekatan dalam menganalisis situasional diantaranya pendekatan VICE.

VICE sebagai kunci keberhasilan perencanaan strategis pariwisata

Berdasarkan faktor-faktor di atas, keberhasilan  rencana strategis harus dapat mengidentifikasi empat aspek yaitu:

  1. Menyambut, melibatkan dan memuaskan Visitor (pengunjung),
  2. Mencapai keuntungan dan kemakmuran bagi Industry (Pemerintah)
  3. Mengikutsertakan dan memberikan manfaat bagi Community (masyarakat),
  4. Melindungi dan mempertahankan Environment (lingkungan) lokal.

Demikian kira2 pemikiran sederhana ini, tentunya masih jauh dari sempurna dan masih banyak yg bisa di kembangkan seperti bagaimana mengelola pengunjung, bagaimana memasarkan destinasi wisata ini dsb. Untuk saran dan kritik langsung aja ya kirim email ke ‘akhmadzulfikrii@gmail.com’.