Kamu tahu gak kenapa Belanda datang ke Indonesia? Sini aku ceritain…

Awal mula bangsa Belanda masuk ke Indonesia karena jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani (1453) mengakibatkan hubungan perdagangan antara Eropa dan Asia Barat (Timur Tengah) terputus. Hal ini mendorong orang-orang Eropa mencari jalan sendiri ke dunia Timur untuk mendapatkan rempah-rempah yang sangat mereka butuhkan. Melalui penjelajahan samudra, akhirnya negara-negara Eropa berhasil mencapai Indonesia.

Lukisan ini dibuat oleh Andries van Eertvelt berdasarkan lukisan gurunya, Hendrick Cornelisz Vroom (1566-1640) yang diabadikan di Rijksmuseum, Amsterdam

Kedatangan mereka di Indonesia pada mulanya lewat kongsi-kongsi perdagangan. Lalu berusaha untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia melalui praktik monopoli. Sebelum datang ke Indonesia, para pedagang Belanda membeli rempah-rempah di Lisabon (ibu kota Portugis). Pada waktu itu Belanda masih berada di bawah penjajahan Spanyol. Mulai tahun 1585, Belanda tidak lagi mengambil rempah-rempah dari Lisabon karena Portugis dikuasai oleh Spanyol. Dengan putusnya hubungan perdagangan rempah-rempah antara Belanda dan Spanyol mendorong Belanda untuk mengadakan penjelajahan samudra. Pada bulan April 1595, Belanda memulai pelayaran menuju Nusantara dengan empat buah kapal di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Belanda menempuh rute Pantai Barat Afrika–Tanjung Harapan–Samudra Hindia–Selat Sunda–Banten. Pada saat itu Banten berada di bawah pemerintahan Maulana Muhammad (1580-1605). Kedatangan rombongan Cornelis de Houtman, pada mulanya diterima baik oleh masyarakat Banten dan juga diizinkan untuk berdagang di Banten. Namun, karenanya sikap yang kurang baik sehingga orang Belanda kemudian diusir dari Banten. Selanjutnya, orang-orang Belanda meneruskan perjalanan ke timur akhirnya sampai di Bali Rombongan kedua dari Negeri Belanda di bawah pimpinan Jacob van Neck dan Van Waerwyck, dengan delapan buah kapalnya tiba di Banten pada bulan November 1598. Belanda diterima di Banten Sementara itu hubungan Banten dengan Portugis sedang memburuk sehingga kedatangan bangsa Belanda diterima dengan baik. Sikap Belanda sendiri juga sangat hati-hati dan pandai mengambil hati para penguasa Banten sehingga tiga buah kapal mereka penuh dengan muatan rempah-rempah (lada) dan dikirim ke Negeri Belanda, sedangkan lima buah kapalnya yang lain menuju ke Maluku. Keberhasilan rombongan Van Neck dalam perdagangan rempah-rempah, mendorong orang-orang Belanda yang lain untuk datang ke Indonesia. Akibatnya terjadi persaingan di antara pedagang-pedagang Belanda sendiri. Setiap kongsi bersaing secara ketat. Di samping itu, mereka juga harus menghadapi persaingan dengan Portugis, Spanyol, dan Inggris. Melihat gelagat yang demikian, Olden Barneveld menyarankan untuk membentuk perserikatan dagang yang mengurusi perdagangan di Hindia Timur.

Tokoh pengusul kongsi dagang VOC, Johan van Oldenbarnevelt (Wikipedia)

Pada tahun 1602 secara resmi terbentuklah Vereenigde Oost Indiesche Compagnie (VOC) atau Perserikatan Dagang Hindia Timur. VOC membuka kantor dagangnya yang pertama di Ambon (1602) di kepalai oleh Francois Wittert. Tujuan dibentuknya VOC Tujuan dibentuknya VOC adalah sebagai berikut: 1. Untuk menghindari persaingan yang tidak sehat antara sesama pedagang Belanda. 2. Untuk memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan, baik dengan sesama bangsa Eropa, maupun dengan bangsa-bangsa Asia. 3. Untuk mendapatkan monopoli perdagangan, baik impor maupun ekspor.

Lalu Kapan Belanda pertama kali menjejakkan kaki di Maluku …

Gunung Api Banda (Dokumentasi Pribadi)

Belanda menyusul datang ke Kepulauan Banda, Maluku. Muhamad Iko Kersapati, dkk, dalam Jurnal Banda Neira: Bandar Rempah di Timur Nusantara, menuturkan, kedatangan pertama Belanda di Kepulauan Banda yakni pada Senin, 15 Maret 1599.  Saat itu, armada laut dan pedagang Belanda tiba di Lonthoir tepatnya di Pelabuhan Ortattan, Banda Besar. Rombongan itu dipimpin oleh Laksamana Muda Jacob van Heemskerck. Pada awal kedatangannya, Belanda hanya berniat untuk membeli komoditas pala langsung kepada para penduduk lokal. Adapun misi penaklukan Kepulauan Banda digagas oleh Jan Pieterszoon (JP) Coen, Gubernur Jenderal Kongsi Dagang Belanda VOC. “Pada dini hari tanggal 11 Maret, ia (JP. Coen) mendaratkan pasukan-pasukannya pada enam tempat yang berjauhan letaknya di Pulau Lonthoir, untuk membuat bingung dan menyerang secara langsung ke pusat pulau,” (Muhamad Iko Kersapati, dkk, 2021: 13).  Pasca penaklukan Kepulauan Banda, VOC membuka industri perkebunan pala secara besar-besaran di Kepulauan Banda. Oleh sebab itu, wisatawan bisa menemukan jejak-jejak perkebunan pala berusia ratusan tahun di Banda Neira.

Perkebunan Pala di Lonthor (Dokumentasi Pribadi)

Rombongan Heemskerck tiba dengan kapal Gelderland (Geldria) yang melego jangkar di lepas pantai Orantatta yang merupakan sebuah kota di Banda Besar. Sehari kemudian atau 16 Maret 1599, armada kapal lain yakni Zeeland menyusul. “Pintu masuk Belanda berbeda dengan yang diambil Portugis. Belanda mengambil dari belakang Pulau Banda Besar.

Sisi lain Banda (Dokumentasi Pribadi)

Orantatta dalam bahasa Banda berarti ‘orang datang’. Orang-orang tua di Banda meyakini Belanda mengambil pintu masuk lain yang diambil Portugis, dan “Belanda datang tak cuma hendak membeli rempah. Tapi melakukan konsentrasi militer.

Dokumentasi pribadi dari Lukisan di Yayasan Warisan dan Budaya Banda Neira

Membangun kerja sama yang monopolistik dan antiportugis. Berujung genosida, pembantaian 14 ribu rakyat sejak 1621,” ujar Sejarawan Banda, Muhammad Farid.

Dokumentasi pribadi dari Lukisan di Yayasan Warisan dan Budaya Banda Neira

Jejak Peninggalan Belanda Di Kepulauan Banda …

Papan Nama Benteng Belgica (Dokumentasi Pribadi)

Saat mengunjungi Banda Neira, Maluku, kita seakan-akan diajak untuk merasakan suasana zaman kolonial dan kekayaan tanah Maluku. Benteng Belgica berdiri kokoh dengan angkuhnya, sekokoh lamanya penjajah bercokol di bumi Maluku yang tujuannya tak lain menguasai pasar rempah-rempah untuk dijual di pasar Eropa.

Salah satu sudut Benteng Belgica (Dokumentasi Pribadi)

Setelah puas berkeliling di Banda Neira, banyak pilihan yang bisa dijadikan alternatif bagi wisatawan menghabiskan liburan. Ada Rumah Pengasingan Bung Hatta, Pulau Ai untuk Anda yang suka diving atau menyelam.

Jika anda tertarik mendaki gunung, terdapat Gunung Api tak jauh dari Pulau Neira. “Di Pulau Banda Besar, ada benteng, sumur suci dan kebun pala. Pantai juga ada,” kata Bahri, pemilik Delfika Guest House. Saya pun langsung tertarik mendengar penuturan Bahri. “Kalau begitu, besok saja kita ke Banda Besar,”.

Bahri melanjutkan, untuk menuju Desa Lonthor di Pulau Banda Besar sangat mudah, ada perahu yang bisa mengantarkan pengunjung ke pulau tersebut. Dermaganya pun tak jauh dari Delfika Guest House, yakni di belakang pasar Banda Neira.

Salah satu Dermaga di Banda Neira (Dokumentasi pribadi)

Minggu (5/5/2013) siang, saya dan teman-teman berjalan kaki dari penginapan Delfika menuju dermaga perahu yang akan menyeberangkan kami ke Pulau Banda Besar. Tak terlalu sulit mencari dermaga tersebut, hanya berjalan kaki sekitar 500 meter dari penginapan milik Pak Bahri yang letaknya persis di depan Rumah Budaya Banda Neira itu.

Rumah Budaya Banda Neira, stok foto ini terbatas jadi belum proporsional (Dokumentasi Pribadi)

Sampai di dermaga, perahu yang datang dan pergi selalu dipenuhi warga kedua pulau. Inilah satu-satunya alat transportasi bagi warga Pulau Banda Besar dan Pulau Neira. Tarif menyeberang dari Pulau Neira ke Pulau Banda Besar hanya Rp 4.000 per orang pada tahun 2013 yang lalu. Namun siang itu, perahu yang menuju Lonthor sudah jalan, terpaksa menunggu perahu berikutnya. Ada satu perahu yang kosong. Terlihat pemilik perahu sedang menaikkan dua karung  beras ke dalam perahu. Sekitar 10 orang bisa dimuat di perahu tersebut. Matahari pun makin beranjak tinggi. Panasnya makin menggigit kulit. “Ke Lonthor pak?” tanya saya. “Ya,” jawab si pemilik perahu singkat. “Jalan sekarang?” kata saya lagi. “Tunggu (penumpang) penuh dulu pak,” jawabnya. “Kalau carter berapa?” tanya saya dengan wajah yang mulai berkeringat. “(Rp) 70.000,” jawabnya enteng. “Bisa turun (tarif) lagi pak?” “Tarifnya memang segitu,” jawabnya cuek. “Oke lah, yuk kita jalan,” kata saya sambil memasuki perahu. Pemilik perahu lantas mulai melepaskan tali kapal yang terikat di dermaga. Selanjutnya mesin perahu dihidupkan dan perlahan-lahan perahu melaju menuju Lonthor.

Kapal yang kami gunakan (Dokumentasi Pribadi)

Cuaca siang itu sangat bersahabat, Pulau Banda Besar terlihat jelas di depan mata. Pemilik perahu ini pun mulai terbuka. Namanya Harto dan lahir di Aceh. Dahulu, orangtuanya berdinas di TNI dan selalu berpindah-pindah tugas hingga sampailah Harto di Banda dan mencari nafkah sebagai pemilik perahu di Banda Neira. Pria murah senyum dengan kulit hitam legam akibat sengatan sinar matahari itu pun mulai bercerita mengenai perkembangan Banda Neira dan suka dukanya menjalani profesi mengantarkan penduduk menyeberang antar-pulau tersebut. “Nyeberang ke Lonthor paling cuma 15 menit. Kecepatan seperti ini (laju perahu tak terlalu cepat). Itu Lonthor,” kata Pak Harto sambil menunjuk dermaga yang semakin lama makin jelas terlihat. Sementara di sebelah kanan menjulang Gunung Api. Tak berapa lama kemudian perahu tiba di dermaga Lonthor. Laut begitu jernih, karang-karang pun terlihat jelas. Ikan-ikan berwarna-warni meliuk-liuk di antara karang yang masih terawat baik. Kami pun menjejakkan kaki di pasir putih Pulau Banda Besar. “Kalau keliling lebih baik naik ojek,” kata Harto mengusulkan cara cepat mengunjungi sumur suci, kebun pala dan Benteng Hollandia. “Boleh juga pak. Tuh ada tukang ojek,” kata saya.

Makasih Pak Harto (Dokumentasi Pribadi)
Ikan Berwarna-Warni (Dokumentasi Pribadi)

Kami melihat dua pemuda dan dua motor parkir di ujung dermaga. Keduanya terlihat sedang berteduh. Harto langsung mendekati kedua pemuda itu dan mengatakan agar membawa kami dengan sepeda motor mengunjungi ketiga tempat tersebut. Setelah tawar menawar, akhirnya disepakati sewa ojek Rp 25.000 per orang. “Bapak keliling. Saya tunggu di sini (dermaga),” kata Harto sambil tersenyum. Melajulah saya dan teman-teman menggunakan ojek menuju sumur suci atau sumur tua yang ada di Desa Lonthor.

Naik Ojek (Dokumentasi Kompas)
Foto sama Pak Harto (Dokumentasi Pribadi)

Letak sumur tersebut di ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut dan memiliki kedalaman 4 meter. Ada dua sumur dan letaknya berdampingan. Dasar sumur berhubungan satu sama lain. Satu sumur dikeramatkan dan satu sumur lagi seperti biasa digunakan warga setempat sehari-hari untuk sumber air minum. Meskipun musim kemarau, sumur tersebut tak pernah kering. Mereka yang meminum air dari sumur itu diyakini akan berumur panjang dan terhindar dari segala jenis penyakit. Saya kemudian menimba air tersebut dan meminumnya setelah itu mencuci wajahnya, ternyata airnya segar saat diminum. Di sumur inilah dilakukan upacara adat yakni cuci parigi yang digelar setiap lima tahun sekali. Tujuan utamanya adalah membersihkan dua sumur tersebut. Bagi penduduk asli di Kepulauan Banda, cuci parigi merupakan tradisi penting. Wajar banyak dari mereka rela memilih pulang kampung untuk menghadiri acara tersebut. Biasanya acara cuci parigi berlangsung antara bulan Agustus sampai November. Cuci parigi ini merupakan acara adat yang selalu dipenuhi mereka yang mengaku penduduk Banda. Acara ritualnya ini selalu dinanti-nantikan oleh wisatawan dalam maupun luar negeri.

Usai mendatangi sumur suci, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Benteng Hollandia. Di pikiran saya terbayang benteng yang akan kami kunjungi ini masih berdiri tegak dan berada di atas bukit, ditambah pemandangan ke arah Gunung Api dan Pulau Neira. Namun, kenyataannya ketika kami sampai di sana, tidak ada benteng utuh yang berdiri. Yang ada hanyalah sisa-sisa reruntuhan benteng yang hampir rata dengan tanah. Yang tersisa hanyalah pintu benteng yang menghadap Gunung Api dan nama Hollandia. Memang, dari depan Benteng Hollandia ini pemandangan Gunung Api sungguh indah.

Dari penelusuran buku sejarah diketahui, tatkala Peter Vleck mengubah bekas benteng peninggalan Portugis itu pada tahun 1624 dan menamakannya Hollandia, pikirannya cuma satu yakni membangun benteng yang megah. Dari benteng ini pula, Belanda bisa melihat kapal-kapal lawan yang hilir mudik. Saat itu, dari benteng ini penguasa bisa mengawasi kerja para budak-budak mereka di kebun pala. Pala merupakan produk yang bernilai jual tinggi kala itu di pasar Eropa. Belanda belum menyadari, ketika Gunung Api memuntahkan kemarahannya pada tahun 1743, maka seketika meluluhlantakkan Benteng Hollandia sehingga nyaris rata dengan tanah. Francois van Boeckholtz, penguasa Belanda berikutnya datang ke Lonthor. Dia memperbaiki Benteng Hollandia pada 1796. Namun perbaikan yang dilakukan selama bertahun-tahun tak banyak bermanfaat. Secara perlahan-lahan bangunan seluas 1.500 meter persegi itu pun mulai meredup dan hanya menyisakan puing kebesaran. Ketika kami datang, bangunan liar tumbuh lebat di luar dan di dalam benteng. Pohon pala tumbuh subur di depan benteng. Sisa-sisa kejayaan masa lalu itu kini hanya tinggal puing dan kenangan.

Pose di Reruntuhan Benteng Hollandia bersama warga lokal (Dokumentasi Pribadi)

Perjalanan kami lanjutkan menuju perkebunan pala dan kenari di Pulau Banda Besar. Di pulau ini, pohon pala dan kenari tumbuh subur. Bahkan ada pohon kenari yang sudah berusia ratusan tahun. Kenari oleh penduduk setempat diproses menjadi makanan atau kue khas Banda dan Maluku umumnya yang dicari wisatawan sebagai oleh-oleh. Sedangkan pala dari Banda ini pada zaman kolonial diangkut ke Eropa untuk dijual dengan harga tinggi. Gara-gara pala, Belanda dengan VOC-nya meraup untung besar pada masa itu. Sementara penduduk Banda tak bisa memperoleh apa-apa dari “harta” yang mereka miliki. Semua hasil pala Banda dibawa Belanda ke Eropa. Matahari pun makin condong ke barat. Tiga tempat sudah kami kunjungi di Desa Lonthor.

Perkebunan Pala dan Kenari di Lonthor, Banda Besar (Dokumentasi pribadi)

Akhirnya kami memutuskan kembali ke dermaga. Dari kejauhan, terlihat Pak Harto dengan setia menunggu. Tak sampai 1,5 jam kami mengunjungi ketiga tempat tersebut dengan ojek. Setelah kami memasuki perahu, Harto langsung melepaskan tali kapal dan menghidupkan mesin perahu dan mengarahkan perahu ke Banda Neira.

Mengabadikan momen (Dokumentasi Pribadi)

“Pak, sebelum balik ke Banda Neira, kita putari Gunung Api, bisa?” tanya saya. “Bisa,” kata Harto bersemangat. “Berapa lama mengelilingi Gunung Api,” tanya saya lagi. “Sekitar setengah jam,” jawab Harto. Ayo pak, kita kelilingi Gunung Api. Nanti (bayaran) saya tambah. Harto pun tersenyum. Selanjutnya perahu pun dengan kecepatan sedang melaju mengelilingi Gunung Api sebelum akhirnya mengantarkan kami merapat di dermaga Banda Neira. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Harto dan dia pun mengucapkan hal yang sama dan selamat jalan. Matahari pun mulai condong ke ufuk barat…

Aku sama Pak Made teman seperjalananku (Dokumentasi Pribadi)
Di Counter Check in Bandara (Dokumentasi Pribadi)

Lalu ada spot apa saja yang bisa di kunjungi di Banda Neira. Nanti aku ceritain lagi…

Sumber: Kompas Travel, CNN Indonesia, Jurnal Banda Neira, Wikipedia, Pengalaman Pribadi

Published by akhmad zulfikri

basketball freak | abang jakarta zaman old | travel blogger | culinary hunter | icon PR 2017 | airliners | terbangkebulan.com